Selasa, 08 Oktober 2019

Sinopsis Novel Kembara Rindu Yang Menyayat Hati

Pada 2019 ini Habibirrahman El Syirazi seorang sastrawan dan cendikiawan Indonesia yang memiliki reputasi internasiaonal meluncurkan karya terbarunya berjudul Kembara Rindu. Novel ini merupakan buku pertama dwilogi pembangun jiwa. Jujur novel ini sebenarnya belum selesai saya baca. Namun, ada pesan yang sangat menyayat hati.

Pesan itu terdapat pada sinopsis buku yang tertulis di cover belakang buku. Isinya seperti ini

“… ia teringat nasehat Simbag Kiyai Nawir dalam salah satu pengajiannya,”

“Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang. Jadilah seperti orang yang mengembara dan sangat rindu untuk segera pulang, itu berbeda dengan orang yang tidak merasa rindu, meskipun sama-sama bepergian. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang waktunya di jalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab ia ingin segera bertemu dengan orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang yang tidak merasa rindu, mungkin dia mampir di satu tempat berlama-lama di situ. Jadinya banyaknya waktu terbuang dan sia-sia. Di dunia ini kita seperti orang bepergian, orang yang mengembara. Dunia ini bukan tujuan kita. tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu mendalam kepada Allah, dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridho-Nya yang tidak tiada bandingan-Nya”.

Sinopsis pendek ini membuat saya selaku pembaca merasa menyesal dengan segala waktu yang telah terlewati begitu saja. Kata rindu yang tertulis pada judul itu awalnya saya tafsirkan rindu untuk pulang ke kampung halaman, bertemu sanak saudara, dan keluarga, namun, dalam prespektif lain ada rindu yang harus diselimuti terus dalam jiwa dan raga kita, yaitu rindu kepada sang Maha Pencipta. Sampai kapan kita menyendiri dan tertutup untuk tidak membuka hati untuk rindu pada-Nya. Setiap waktu kita ada nama-Nya, setiap waktu kita dipanggil untuk melangkah kepada-Nya dalam shalat lima waktu, ini berarti Dia (Allah) pun rindu pada kita, lalu bagaimana dengan diri kita ini? Apakah kita telah rindu pada-Nya disela kesibukan kita, apakah kita mengingatnya saat lelah dan capek menyerang kita.

Mari mengingatkan kembali hal-hal yang sudah kita lalui tanpa mengadirkan Allah dalam hidup kita. Seberapa rasa rindu kita pada-Nya, padahal Dia telah memberikan segalanya kepada kita, kemudian kenapa kita melupakan-Nya.

Yuk, segera miliki novel penuh inspirasi yang membangun jiwa ini, lahap isinya dan jadilah perindu yang ingat akan tujuan ke mana ia harus pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Trimakasih atas kunjungan Anda. Silakan tinggalkan pesan pada kolom komentar. Jika ada yang ingin ditambahkan atau ada kritikan tentang tulisan yang Anda baca. Terimakasih.