Selasa, 17 September 2019

Resensi Buku Cerdas Berbahasa: Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi

Judul : Cerdas Berbahasa: Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi

Penulis : Suherli Kusmana, Eko Kuntarto, Endi Boeriswati, Suhartono.

Penerbit : Yrama Widya

Tahun : 2019

Tebal : 222 hlm

Berdasarkan surat keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Republik Indonesia Nomor 43/Dikti/Kep/2016, tanggal 6 September 2016, tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi, maka mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai MPK menekankan keterampilan mahasiswa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sesuai dengan rambu-rambu yang tertulis di atas bahwa menekankan agar mahasiswa dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka kehadiran buku yang berjudul “Cerdas Bahasa: Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi”. Sangat cocok dijadikan sebagai pegangan dan rujukan untuk mencapai tujuan dalam rambu-rambu tersebut.

Dalam buku ini penulis menyajikan materi secara rinci apa yang menjadi kebutuhan mahasiswa untuk kembali mengingat pentingnya bahasa Indonesia. Apalagi pada era yang disebut sebagai era generasi Z. Penulis ingin mahasiswa menoreh kembali pada masa lampau bagaimana semangat juang para pemuda waktu itu merancang satu kesatuan, satu solidaritas, satu ukhuwah dalam satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Maka lahirlah sumpah pemuda. Pada point ketiga yang menyatakan “Kami putra putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia”.

Ikrar para pemuda itulah yang kemudian menjadi pemicu munculnya gerakan persatuan rakyat untuk mencapai kemerdekaan yang akhirnya membuahkan hasil berupa kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Selaku mahasiswa dan juga masyarakat Indonesia patut bangga atas apa yang telah diraih dan diwujudkan sebagai alat pemersatu bangsa. Jangan sampai kita terus dilanda penyakit senomenia yaitu suatu sifat yang selalu melebih-lebihkan segala sesuatu dari luar atau asing. Salah satu yang kerap kali dilakukan adalah mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Dalam buku ini penulis menjelaskan bahwa penyakit ini dapat melemahkan jati diri bangsa Indonesia yang berdaulat, memiliki tanah air, kebangsaan dan bahasa. Dimasa yang akan datang, dikhawatirkan ketika mahasiswa lulus dan menjadi pemimpin bangsa atau pengusaha sikap ini terbawa sehingga memiliki kecenderungan untuk lebih suka menggunakan bahasa asing pada ruang publik.

Selain sikap atau penyakit senomenia bermunculan juga penggunaan kata “sarkasme dan hiperbola” pada penamaan makanan. Mungkin maksud dan tujuannya adalah agar memikat para pendatang, namun hal ini bisa menjadi dasar tindak kekerasan sehingga mengalami kesulitan dalam memberi nama-nama yang baik , santun menarik, indah, dan, harmonis.

Maka para mahasiswa selaku pemuda yang diharapkan untuk mempertahankan apa yang dimiliki bangsa Indonesia dapat menggunakan Bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya. Maka selain sejarah, fungsi bahasa dan kedudukan yang dijelaskan dalam buku ini. Penulis juga menyajikan tata bahasa yang harus dipelajari oleh mahasiswa. Hal ini sangat dibutuhkan apalagi dalam kepenulisan. Untuk mempertahankan bahasa yang baik dan benar mahasiswa juga dituntut untuk dapat menulis. Selain untuk mengembangkan kepribadian dan mengembangkan pola piker mahasiswa, dengan menulis mahasiswa bisa memngembangkan bangsa melalui tulisan. Di mana dahulu, banasa Indonesia berkembang juga karena adanya tulisan, yaitu dengan dibuktikan dengan adanya karya-karya sastra yang bermunculuan dimasa itu.

Maka saya katakan lengkaplah isi buku “Cerdas Berbahasa: Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi”, yang telah dikemas dalam satu kepaduan yang padat untuk dijadikan rujukan kepada mahasiswa untuk mengembangkan dan mempertahankan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dan bahasa nasional. Sedikitit kesalahan yang menjadi catatan bagi penulis adalah pada halaman 17. Yaitu penggunaan titik dua (:). Di mana titik dua tidak digunakan pada perincian atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Kemudian kesalahan tulisan pada halaman 18, yang tertera dalam buku adalah “Memontum” yang benar sesuai KBBI adalah “Momentum”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Trimakasih atas kunjungan Anda. Silakan tinggalkan pesan pada kolom komentar. Jika ada yang ingin ditambahkan atau ada kritikan tentang tulisan yang Anda baca. Terimakasih.